Dari Merauke sampai ke SABANG… berjejer pulau – pulau (indah)

“All travel has its advantages. If the passenger visits better countries, he may learn to improve his own.

And if fortune carries him to worse, he may learn to enjoy it”

(Samuel Johnson)

Artinya kira – kira hobi travelling itu bagus… Kalau objek yang kita kunjungi bagus, kita belajar untuk ikut bagus, kalau jelek, kita akan belajar untuk tetap menikmatinya…

Kalau travelling ke Sabang…?

Mengikuti omongan bijaknya Jawaharial Nehru : “We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures we can have if only we seek them with our eyes open.”

Dunia ini indah, Tuhan sudah sediakan, buka mata, sempatkan waktu berkeliling melihat sekitar… Mari sempatkan waktu sejenak ke Sabang, Pulau Weh. Pulau indah di ujung barat Indonesia…

Hidup ini seringkali tidak bisa ditebak.. Dari Banyuwangi, ujung timur Pulau Jawa, saya tiba – tiba mendapat daerah penugasan baru di Papua, artinya sekarang malah ada di ujung timur Indonesia. Dari melihat ujung rel KA dan ujung aspal Jawa (Bukan ujung aspal pondok gede nya Iwan Fals), tiba – tiba saya sudah sampai di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di jayapura dan Merauke. Kewajiban untuk travelling keliling Propinsi Papua (work visit maksudnya hehe) dengan segala keterbatasannya bukannya membuat saya merasa terasing dan jenuh, tapi malah membuat hobi lama yang menyenangkan muncul lagi. Satu kebiasaan, atau hobi yang selama ini tidak terasa tersingkir dari ‘list to do’ hidup saya..

Hobi apakah itu?

A.Hobi

B.Apa

C.Kah

D.Itu

E.Acuh tak acuh

hehehe….  Maksudnya hobi ‘kelayapan’ saya yang selama ini saya lupakan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, sejak di Papua terfasilitasi lagi… FYI saya sudah travelling naik gunung di kelas 2 SMP lho :D #bangga #gakpenting #abaikan

Tinggal di Jayapura, sambil menikmati indahnya bukit, laut, danau, dilengkapi dengan sekelompok teman-teman baru yang unik. Work Visit ke Biak, diselingi dengan bersantai di bawah laut nya sambil disuguhi terumbu karang nan indah dan ratusan mungkin ribuan ikan warna – warni yang tersohor itu. Ke Timika dan singgah ke Freeport, meskipun hanya muter – muter di Low Land Kuala Kencana, dan menyusuri jalanan merauke sampai di kilometer terakhir (atau awal) Republik Indonesia, membuat hobi lama itu masuk lagi ke ‘list to do’saya. Masuk dan malah semakin merengsek naik, susah untuk di kendalikan! Ya, keinginan untuk bepergian ke tempat – tempat lain yang pasti tidak kalah indahnya makin susah untuk ditahan, semacam tantangan yang harus dijawab. Setelah melihat pantai, ingin melihat sekilas isi lautnya. Lama – kelamaan ingin masuk kedalam menikmati seluruhnya. Setelah ke ujung timur Indonesia, harusnya ke ujung barat juga agar komplit… :)

Dari pengantar berbelit – belit diatas, saya harap pembaca (kalau ada) sudah mulai bisa menangkap arahnya kemana ini cerita… Yup, saya membuat plan untuk travelling ke UJUNG yang lain. Ujung timur sudah, ayo lengkapi dengan ‘mengencingi’ ujung barat alias Sabang, Pulau Weh weh wehehehe…

Manusia membuat rencana, Tuhan yang menentukan. Dan kali ini Tuhan memberkati saya dengan cara sebagai berikut :

  1.  Memberi hikmat kebijaksanaan kepada bos saya untuk meng-approve cuti akhir tahun. Cuti akhir tahun berarti mudik ke medan, dapat subsidi mudik -seluruhnya ditanggung company- (ini sih namanya bukan subsidi ya, hehe)  dari jayapura ke medan!
  2. Tidak lupa Tuhan juga memberi hikmat kebijaksanaan kepada bagian marketing salah satu maskapai penerbangan (sebut saja bunga) untuk menetapkan tiket promo Medan-Banda Aceh tepat dengan tanggal rencana travelling saya.

Kesimpulannya, trip Jayapura-Transit Makassar&Jakarta-Medan-Banda Aceh-Sabang akan terlaksana dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan biaya yang sekecil-kecilnya…

Prembule ini terlalu panjang, saatnya masuk ke inti cerita…

Selasa, 20 Desember 2011, pukul 11 WIB, saya akhirnya menginjakkan kaki di Propinsi Nangroe Aceh Darusallam. Bandara Sultan Iskandar Muda ini tampak cukup bagus dan berkelas, tidak terlalu besar tapi rapi, bersih dan tampak masih baru. Terlihat Aceh sudah berbenah diri, recovery dari bencana tsunami beberapa tahun yang lalu (beberapa hari lagi akan diperingati 7 tahun tsunami aceh). Alasan lainnya adalah karena ternyata tahun ini Pemerintah Aceh mengkampanyekan visit banda aceh. It’s Time To Visit Banda Aceh slogannya. Yuukk mariii… :D

Berbekal sedikit pengalaman dari sepupu saya yang sudah pernah kesini, dia menjadi pemandu perjalanan wisata ini. Mencarikan taksi, bargaining, menuju 1 warung kopi (warkop) terkenal di kota ini. Kota ini dikenal sebagai kota seribu warung kopi, karena banyaknya warung – warung kopi, mengikuti kebiasaan masyarakat Aceh yang suka berkumpul dan mengobrol utara-selatan (ngalor ngidul) disana. Selain itu, kopi aceh memang terkenal nikmat. Kalau mereka bercerita nikmatnya kopi gayo Arabica atau robusta, saya amini saja, karena saya tidak tahu bedanya dimana… Kita menuju Solong Coffee, Ulee Kareng. Since 1974, sejak 1974.

Siang hari kita melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ulee Lheue. Dari pelabuhan butuh waktu kurang lebih 45 menit menuju Pulau Weh (Sabang), dengan Kapal Cepat.

Pelabuhan Ulee Lheue, salah satu yang ikut hancur terkena tsunami. Setelah recovery, resmi di buka kembali tahun 2009 oleh……… Hmm, saya akan memberitahu dibuka oleh siapa nanti di akhir tulisan ini. Agar pembaca (kalau ada) tetap mengikuti cerita saya.. Ben rodo penasaran ngono… Pelabuhan ini juga cukup rapi, bersih, kursi – kursinya modern seperti kursi di Bandara. Di luar ada kapal yang sedang bersandar, cukup bagus, nama kapalnya Pulau Rondo. Di bahasa jawa artinya ‘pulau janda’ hmm semoga itu kapal yang akan kita naiki, dengan harapan nama kapal = lokasi tujuan… Duduk menunggu, di dekat kita ada sekelompok keluarga yang asik mengobrol dengan bahasa tradisional aceh. Cepat, rumit, tak satupun kosa yang saya mengerti.. Bahasa Aceh memang salah satu bahasa yang cukup rumit. Ah, tapi semua bahasa daerah memang cukup rumit. Apalagi kalau sudah mendengar orang Wamena ngobrol.

Dan, harapan tidak menjadi kenyataan. Saya menaiki kapal cepat yang bagus, meninggalkan kapal pulau rondo yang tetap tersandar di pelabuhan. 45 menit perjalanan yang menyenangkan (saya tertidur pulas), sampai juga di Pelabuhan Sabang.. Yeah, I’m at sabang, the most west island in Indonesia. Menginjakkan kaki di pelabuhan, sekali lagi sepupu saya yang sebesar kulkas 2 pintu ini menjadi negotiator untuk urusan ojek dan akomodasi.

Saya merasakan suasana yang cukup menyenangkan di pulau ini. Sangat tenang. Jalanan dengan kontur naik turun dan aspal yang mulus, langsung menghadap Samudera Hindia. Pemandangan yang sangat indah karena kita berjalan diatas tebing, dengan laut ada di dasar tebing,  sekilas mirip dengan jalanan di Jayapura. Sepanjang perjalanan juga supir taksi banyak bercerita mengenai keindahan pulau ini, mengenai betapa amannya daerah ini dari curanmor, curanran (pencurian jemuran) dan curan curan yang lain kecuali curansa (pencurian pulsa). Kita bisa dengan seenaknya meninggalkan kendaraan bermotor kita dipinggir jalan (atau dimana saja) dengan kunci masih menempel, dan dijamin kendaraan itu masih akan ada di tempatnya berapa lama pun kita tinggalkan. Cukup logis, mengingat ini adalah pulau yang cukup kecil, pintu keluar masuk hanya dari pelabuhan, dan pemeriksaan pun cukup ketat. Kita juga sempat singgah di salah satu dealer mobil bekas yang cukup banyak di pulau ini. Mobil bekas yang dijual adalah mobil yang sering kita lihat, seperti Toyota camry, Mercedes Benz, BMW, Jaguar, Nissan, Ford. Ya, sering kita lihat tapi belum tentu pernah kita naiki. Harganya? Berkisar antara 50jt-80jt. Wow, Kenapa mobil kelas dunia ini berharga kelas mangga dua? Jawabannya adalah karena mobil ini berasal dari singapura yang sudah di kick out alias di delisted. Harganya cukup murah juga karena sudah tidak ada surat2. Jadi mobil – mobil ini hanya dipakai untuk berkeliling di Pulau ini. Kalau dibwa keluar pulau, misal ke Banda Aceh, maka  harganya akan naik berkali-kali lipat karena harus berurusan dengan pajak, bea cukai, ijin, dll. Jadi tidak heran jika ada jaguar yang dipakai untuk mengangkut tomat dari ladang…

Jaminan bahwa Sabang adalah daerah yang aman langsung terbukti di hari itu. Setelah istirahat sebentar di hotel (Guest House Pantai Kasih), kita meminjam motor penginapan pergi ke daerah iboih (25km dari penginapan), karena saya harus bertemu dive operator membicarakan mengenai diving esok harinya. Karena sudah lewat magrib, jalanan cukup gelap (penerangan hanya dari lampu motor). Sepanjang perjalanan hanya sesekali ada perumahan penduduk, sisanya adalah hutan dikiri kanan. Selain itu kontur jalan naik turun bukit membuat motor yang kita naiki suaranya cukup memprihatinkan, seperti tidak kuat menanggung beban. Ada 1 lemari es 2 pintu dan 1 karung beras 78 kilo yang harus dia bawa, kasihan. Nyali kita sedikit ciut sebenarnya, tetapi apa yang tadi siang dibicarakan ternyata benar. Tidak ada hal-hal aneh terjadi. Malah yang mereka khawatirkan sebenarnya adalah gangguan monyet yang bisa tiba2 muncul dari hutan. Tetapi syukur tidak terjadi, mungkin monyet juga berpikir ulang menyerang mahkluk yang diotak mereka tergambar seperti 2 beruang… terlalu beresiko.

Keluar dari hutan, menuju pusat kota sabang, kita berhenti di pujasera. Pujasera ini menyediakan makanan dan minuman khas sabang/aceh. Mungkin karena suasana kotanya yang tenang membuat makanan dan kopi aceh yang saya pesan pun terasa lebih nikmat. Ya, kehidupan terasa berjalan lebih lambat disini. Angin bertiup lambat, ombak tidak terlalu kejar mengejar, motor dan mobil pun berjalan perlahan. Tidak ada yang terlalu terburu-buru. Suasana yang menyenangkan untuk menenangkan pikiran, hehe..  Lengkap dengan Sinyal komunikasi yang antara ada dan tiada.

Banyak lokasi yang bisa dikunjungi disini, bisa dilihat dari peta wisata yang cukup informatif dan mudah didapat, hal kecil tapi cukup penting dan bermanfaat bagi wisatawan. Sebagian besar adalah wisata bawah laut dan pantai. Selain itu kita juga bisa berjalan ke puncak bukit, tempat dimana tugu kilometer 0 dibangun. Jika sudah ada disini, kita juga bisa mengurus sertifikat yang ditandatangani oleh walikota sebagai bukti kita sudah ke tugu kilometer 0. Cukup kreatif ya…

Tujuan utama saya? Melihat pemandangan bawah laut, alias diving, dan ke kilometer 0 hehe.. Seperti yang sudah saya tulis di awal, perbatasan indonesia di ujung timur sudah saya kunjungi, biar klop sekarang ke ujung barat nya. Untuk diving dan pantai, sebenarnya mungkin lebih banyak pilihan di daerah timur (Bunaken, wakatobi, ambon, lombok, labuhan bajo, raja ampat, biak dll), tetapi dari info yang saya temukan di internet, Pulau ini juga salah satu tempat terbaik untuk pantai dan diving. Melalui internet juga saya membuat janji dengan dive operator disini. Pilihan yang kemudian agak saya sesali karena pelayanan yang kurang memuaskan… Satu hal yang sedikit mengurangi perjalanan yang menyenangkan ini. Dan lagi, setelah berkeliling saya baru tahu ternyata banyak sekali dive operator, lokal dan dari luar.

Bercerita mengenai dive operator ini, sebenarnya orang yang saya hubungi (manajer dan pemiliknya) sangat ramah, dan cukup membantu. Sayangnya beberapa dari dive master nya yang agak kurang supel. (alias jutek). Dari awal ketika saya diarahkan untuk diving dengan dia, sikapnya sudah agak kurang ramah. Waktu itu saya dive dengan 2 orang dari stasiun tv yang sedang syuting untuk program acara jalan-jalannya (yang akhir-akhir ini menjadi sangat banyak), dan 1 orang dari luar negeri. Diatas boat menuju spot, saya lebih banyak dicuekin seakan saya ada disitu tetapi tidak bayar! Perhatian dive master nya lebih banyak ke reporter tv tersebut dan si bule.  Dan yang paling membuat saya kesal adalah kelakuan oknum ini ketika kita sedang dive. Isi tabung saya waktu itu tinggal 50, artinya waktunya mengambil safety stop untuk naik keatas. Saya memberi kode kepada si oknum ini, dan dengan tenang dia menyuruh saya melakukan safety stop dan naik. Sampai disitu kondisi masih normal… tetapi, setelah dia memberi kode, dengan tenang juga dia ngeloyor pergi dengan salah satu operator tv tersebut! Saya ditinggal sendiri di dalam laut! Tanpa ada dive comp (jam yang menunjukkan segala informasi selama kita menyelam), tanpa ada info ke boat diatas untuk menjemput saya… Kurang ajar! Dia kira ini lagi di mall apa saya ditinggal disuruh pulang sendiri… Satu yang saya ingat dari omongan instruktur saya di Jayapura, menyelam itu tidak boleh sendiri.. Turun bersama, naik bersama. Nah ini, diatas dicuekin, turun bareng, naik sendiri. Dan benar, sampai diatas, posisi saya sangat jauh dari pantai, ombak juga cukup tinggi waktu itu karena di tengah laut dan sedang hujan deras. Saya melambai-lambaikan tangan berharap boat, yang entah dimana, melihat saya dan datang menjemput. Sukur tidak beberapa lama boat nya datang. Operator boat sempat bertanya dimana si oknum dan reporter, tetapi saya sudah malas menjawab… Tidak lama juga setelah saya naik, naik lah si oknum ini dengan si reporter. Selisih waktu hanya 5 menit!! Kenapa tadi dia tidak mengatur agar kita tetap naik bersama. Kalau isi tabung mereka masih sangat banyak waktu itu mungkin saya akan maklum, tetapi ternyata hanya selisih 5 menit!!

Sudahlah, itu Cuma kelakuan oknum saja, tidak sistematik, seperti bahasanya pak Sutan Bathoegana hehe.. Buktinya si owner dive operator ini cukup friendly, dan malah mengantar kita ke tugu kilometer 0 dan kembali ke guest house di sabang. Dia bercerita mengenai aktivitas mereka merehabilitasi terumbu karang di sekitar pulau ini, dan bagaimana dulu ayah nya lah yang menjadi asal muasal cerita kenapa banyak monyet di pinggiran jalan dari sabang menuju ke iboih (lokasi dive resort ini). Dulu, di masa monyet – monyet ini kekurangan makanan, si ayah (setiap minggu) berjalan menyusuri hutan membawa pisang, sangat banyak, akan diberikan ke monyet – monyet yang ada di hutan. Karena seringnya, akhirnya setiap minggu (sabtu atau minggu) secara otomatis monyet – monyet itu akan keluar dari hutan menunggu sang pengantar pisang datang, sampai sekarang! Sayang hari itu bukan weekend, jadi saya tidak sempat melihat kerumunan monyet menunggu delivery banana 14047 datang hehehe..

Cerita reboisasi terumbu karang mengantar kami ke tugu kilometer 0. Ada di puncak bukit, langsung menghadap ke laut lepas. Kita bisa bersantai disini melihat sunset, karena kebetulan juga sudah sore waktu itu, hmm..sangat indah. Rancang bangun tugu ini sebenarnya cukup bagus, besar dan unik. Sayang banyak corat coret yang (sangat) tidak penting, terlebih coretan di plakat tugu! Ajo was here, Anto was here before Ajo, etc. Ah kenapa jahil sekali ko pu tangan! Bagaimanapun, sudah tiba disini, foto – foto dulu hehe.. www.kapanlagi.com/biareksis.php

Dan, cerita monyet tadi mengantar kami kembali ke penginapan. Mandi, Makan, Modom…

The next day, hari terakhir disini, saya membuat janji dengan dive operator yang lain (pulau weh dive resort). Yang ini jauh lebih baik dan sangat ramah. Dive masternya adalah wanita chinese warga negara malaysia. Dia dan kolega2 nya baru memulai bisnis resort di pulau ini. Sekilas dilihat, mungkin ini resort yang paling bagus yang ada di Pulau Weh, berada persis di pinggir pantai dengan pasir putih dan tidak jauh dari pantai di susun batu penghancur ombak sehingga air di tepi pantai relatif tenang.

O ya sebelum ke resort ini, saya dan the cute grizzlies (beruang imut-sepupu saya) berkeliling dulu memutari pulau ini, singgah di pantai pasir putih. Minum kopi di pinggir pantai ditemani debur ombak dan semilir angin, nikmatnya.. Sayang tidak ada silverqueen, jadi santai belum santai karena tanpa silverqueen… (mantan calon karyawan pt ceres).

Ditambah lagi obrolan seru tentang pekerjaan, masa lalu, impian – impian dengan sepupu saya ini. Kalau sudah ketemu, kita bisa ngobrol dari pagi ketemu pagi lagi. (dari jam 7 pagi sampai jam 7.30 di pagi itu juga) ehehe.. Selalu menyenangkan ngobrol dengannya, mungkin karena banyak kesamaan (dan perbedaan juga :D)

Diving hari ini menyenangkan, 2 spot, di spot terbaik di Sabang, peunateung. For info di dive operator pertama kemarin saya request kesini, tapi di tolak dengan alasan belum cukup umur alias masih pemula hehe.. Ternyata biasa-biasa saja, sedikit drifting, mengikuti arus yang lumayan kencang tapi saya cukup menikmati hehe, serasa jadi superman.

Dan, kitapun tiba di akhir cerita…

Pantai sudah, kilometer 0 sudah, diving sudah, tidak terasa 3 hari ada disini, besok harus berlayar kembali ke Banda Aceh, langsung terbang ke Medan.

Hmm.. Kesimpulannya, sangat menikmati travelling ke sabang ini. Pantai kasih disini masih kalah ramai dibanding Pantai Kuta di bali, tapi tidak kalah indah! Pantai pasir putih juga terlihat sangat mirip dengan pantai senggigi di lombok. Beberapa tempat disini juga bisa di manfaatkan menjadi pusat keramaian seperti di Gili Trawangan, karena pantainya yang cukup panjang. Hanya mungkin terbentur di peraturan dari pemerintah daerahnya, karena tidak akan bisa sebebas di bali atau lombok.

Dari Merauke ke Sabang, timur ke barat, Indonesia tidak habis – habis keindahannya, silakan anda nikmati… :)

“No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow.” – Lin Yutang.. Time to go home, for christmas…

Sabang, 20-23 Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s