Wamena, another awesome trip…

“Bahwa sesungguhnya kamu baru dinyatakan sah pernah ke papua, ketika kamu sudah menginjak tanah wamena, lembah baliem” – anonim (kompetitornya 234 & ouval research bandung)

Omongan seperti itu sering dikeluarkan oleh orang2 yang tinggal disini, terutama kepada pendatang atau orang yang tujuannya hanya berwisata.. kalau ke papua, belum lengkap kalau belum ke wamena… (Sama ke Raja Ampat pastinya)

Hmm…

Trip to Wamena

Dari berita yang ditulis di website memang daerah ini terkesan cukup eksotik, dataran tertinggi di Papua yang masih berpenduduk, lalu dari tim bola nya di Liga Indonesia (Bakar Nurdin! Bakar Nurdin!!! –langsung emosi-) Persiwa Wamena yang tidak pernah kalah jika bermain di kandang (jadwal pertandingan di atur malam hari –> kaki pemain lawan kaku, hidung mimisan), sehingga dijuluki The Highlander (Tapi yang ini tukang tebas kaki lho ya bukan tebas kepala).

Lalu konon ceritanya disinilah kita masih bisa melihat orang2 hidup dengan budaya asli papua. Memakai koteka, budaya bakar batu, beternak babi, dll… Dan yang utama, pemandangan alamnya yang benar2 indah, komunitas manusia hidup dan berkembang di sebuah lembah dikelilingi tebing2 dan pegunungan… Sedemikian eksotis dan menariknya sampai membuat Shakira si penyanyi Kolombia terinspirasi dan menjadikannya theme song Piala Dunia Afrika 2010…

Wamena mena, ee ee, waka waka ee..  Wamena mena sangalewa, this time for africa…

Hmm…

Dan, peristiwa itu pun terjadilah (kaya’ cerita apaan begini jadinya)…

Baru 1 Minggu di Jayapura, Bos visit dari Makassar, ke Jayapura dan besoknya langsung berangkat ke Wamena, semua orang bilang saya beruntung, baru 1 Minggu!! (baca kembali prembule diatas). Tujuan visit ini sebenarnya untuk preparation visit direktur nanti di Bulan Agustus, jadi terhitung dalam rangka pekerjaan. Tapi ya karena ke Wamena, misi plesiran lebih kental dibanding work visit, maklum karakter Inzaghi kita cukup kuat (Inzaghi = Oportunis)

Berangkat dari Jayapura dari Terminal Sentani dengan Pesawat Trigana Air (Sebenarnya bandar udara Sentani tapi kalo dari pintu masuk lebih mirip terminal, banyak bener mobil parkir bikin macet). Pesawatnya type TRL 420 tapi pramugarinya cakep! (entah dimana korelasinya). O ya transportasi yang available ke Wamena hanyalah jalur udara – just info untuk saudara2 saya sesama orang batak yang ingin merantau kesini cari kerjaan, belom ada angkot atau AKDP!! – Hehe..

40 menit penerbangan, tibalah di bandara wamena, hmm yang di Jayapura bener bandara, yang ini ternyata yang terminal!! Hahaa..

welcome to wamena

Di pintu terminal eh bandara kita langsung disambut oleh seorang tua yang hanya memakai koteka, menawarkan untuk foto bareng. Tapi kita tolak sesuai saran dari tourguide (charge nya muahal!) Bandara yang sangat sederhana, pemandangan yang masih alami, dan orang ‘lokal’, tampaknya benar, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan🙂

Setelah check in di hotel, kita langsung bergerak mengunjungi setiap tempat yang direkomendasikan oleh bapak pemandu wisata (Pak Fuad asli arek suroboyo).


Adat wamena - potong jari di acara kemalangan keluarga

Mulai dari cek hotel di puncak bukit, Baliem Valley. Pemandangan lembah baliem terihat jelas dan sangat indah dari hotel ini. Tapi sayang akses ke atas bukitnya cukup susah, coba saja diperbaiki dan lebih dipromosikan. Yang unik, setiap kamar terpisah dengan kamar lain, berbentuk honai dan masih dikelilingi oleh hutan.. Jadi benar2 welcome to the jungle temanya, hehe..

Udang Selingkuh (affair sama kepiting)

Seperti Berastagi...

bagus ya? haha

Baliem Valley

Pemandangan lembah...

Cafe Baliem Valley...

honai

Setelah itu langsung lanjut ke Goa Stalagnit ( Ga tau persis namanya). Yang menarik bukan wisata goa nya, tapi kebetulan saya ngeliat anak kecil papua yang lucu, sepertinya anak pengelola komplek goa tersebut. Lucu dan dia terlihat bingung, ada Om om bermuka kotak ngejar2 pengen ngajak foto.. Someday ketika dia diberi tugas oleh gurunya mengarang ‘pengalaman yang tak terlupakan’ mungkin dia akan mengarang, dulu pernah didatangi oleh sekelompok orang2 aneh, seperti gerombolan penculik anak😀.

mother and daughter

hellooo...🙂

Mau foto aja, gak diculik...

Anak lucu, semoga dia mendapat pendidikan layak, cukup gizi, agar nantinya menjadi orang yang berguna, amiinn…

Lagi - lagi kaya berastagi

...

beautiful tree

Honai the traditional house

Tur 1 hari ini di teruskan menuju perkampungan suku asli, dimana mereka menyimpan mumi orang papua (saya lupa namanya). Disini kalau ingin berfoto dengan mumi harus membayar Rp.20rb, cukup murah sebenarnya. Dan kalau ingin berfoto dengan orang2 berbusana adat (bahasa halus dari tidak berbusana), kita harus membayar Rp5rb/orang/sekali jepret. Yah, kapan lagi bisa foto dengan penduduk asli dengan pakaian adat mereka.

sukur gak mirip...

meet and greet

O ya, for info (maaf kalau ada yang kurang berkenan), wanita suku2 asli di Wamena dikenal sebagai orang yang biasa menyusui anak babi. Nah, kok bisa? Kenapa? Karena fakta disini, harga babi cukup mahal (yang kecil 20an jt, gede dikit 50jt, yang paling besar ngantor di Senayan) Wajar kalau babi menjadi komoditas utama, dan kebanyakan dari mereka memang beternak babi. Jadi, ada anggapan kalau membesarkan anak babi itu penting, sehingga muncul kebiasaan seperti itu, menyusui anak babi. Tapi kepala suku/pemimpin di kampung tersebut sedikit tersinggung ketika kita tanyakan. Katanya memang mereka terkenal dengan budaya itu, tapi sekarang sudah tidak, dan dia malu kalau masih ditanyakan seperti itu oleh turis. Hmm.. Sepertinya kita memang harus lebih sayang dengan ibu kita ya, karena di tempat lain di negara ini ada ibu yang belum begitu perduli dengan anaknya… hehehe…

poto session

Oke, cukup mengenai susu (kita serahkan ke BPOM dan TV One). Melanjutkan perjalanan, sekaligus istirahat di satu bukit berpasir putih (agak aneh juga). Pemandangan disini cukup bagus, bukit batu jadi seperti di lokasi syuting Lord of The Ring hahaa.. dan waktu itu juga sudah agak sore, angin dingin berhembus, mencengkam menghempas, membelai wajah ayu… Itulah kenangan yang terakhir darimu… Lha kok jadi lagu Broery Marantika begini..

hey i'm here...

Tidak berlama – lama disini, kita melanjutkan tur wisata kita ke…Hotel. Lho kok lanjut ke hotel? Lha ya iya, udah mabgrib, belum makan juga…

get back

Jet Plane Twin Otter

Perjalanan hari ke dua lebih banyak untuk urusan kerjaan, jadi tidak terlalu penting juga untuk di share, hehe.. Kesimpulan 2 hari saya disini, apa yang orang2 katakan mengenai daerah ini ternyata benar adanya. Dan benar juga, sayang kalau sudah sampai di tanah papua tapi tidak menyempatkan untuk datang ke Wamena, lembah baliem…

Bulan Agustus nanti akan ada festival Lembah Baliem, festival tahunan yang sangat menarik… Semoga bisa ada lagi disini, dan sekali lagi menjadi saksi betapa indah dan menariknya lembah ini…

Another awesome trip, Thanks God…🙂

thank you...

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on April 22, 2011, in Lihat - Lihat and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. elisa eka bungawaty

    senangx jalan-jalan ke baliem.
    impianku mau ke baliem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: