Ayoo ke Biak!!!

Another Papua trip story… Berhubung saya memang sedang dalam penempatan disini, jadi kesempatan untuk explore banyak hal menarik mengenai Papua… Karena selain OPM, Freeport, dan trio  TOP (Titus bonay – Okto – Patrich wanggai) yang menggila di Sea Games kemarin (+ Boas Sollosa tentunya, idola saya hehe), banyak sekali hal menarik disini yang bisa diceritakan…

Biak adalah salah satunya…

Oya, sebelum mulai membaca, tulisan dan foto di postingan kali ini saya sadur dari beberapa tulisan yang sudah ada, bukan maksud mencontek tapi tulisan ini cukup bisa menggambarkan mengenai Biak. Dan ya, kalau sepintas membaca beberapa kalimat yang kurang penting, anda benar, itu asli tulisan saya… Jelas donk kenapa lebih banyak yg disadur… :I terlalu panjang prolognya, ya sudah.. Ayo ke Biak!!!🙂

SEJARAH BIAK

Biak adalah pulau yang terletak di selat cendrawasih, daerah barat laut Papua. Pulau ini adalah salah satu dari tiga pulau utama (Biak, Supiro, dan Biak Numfor) yang berada di kabupaten Biak Numfor. Selain itu, kabupaten Biak Numfor yang luasnya mencapai 4.010 km itu juga meliputi 41 pulau kecil lain.

Pulau di utara Papua

Pulau Biak yang kadang ditulis sebagai Wiak, ditemukan pada tahun 1567 oleh seorang penjelajah Spanyol bernama Alvares. Pulau ini kemudian dipetakan oleh penjelajah lain dari Belanda, Willem Corneliszoom pada ekspedisinya tahun 1615-1616, dan pada 1828 Belanda mengklaim Biak sebagai daerah jajahannya

Di awal tahun 1900an seorang pedagang dari Cina sampai di daerah Bosnik, yang berada di bagian timur pulau, dan memperdagangkan rempah, kulit buaya, rotan, ikan, serta burung – burung eksotis. Baru setelah kekalahan Jepang di PD 2, kota Biak mulai dikenal sebagai kota utama. Pemerintah Belanda lalu kembali mengendalikan pemerintahan secara administratif di pulau Biak, sampai pemerintahan Republik Indonesia sepenuhnya mengambil alih pada tahun 1962. Pada masa itu, Pulau Biak berkembang menjadi kota yang cukup besar dengan fasilitas seperti gedung bioskop, restoran, cafe, hotel, dan bangunan – bangunan administratif. Sebagai salah satu pelabuhan utama di masa itu, Biak pun dikenal sebagai tempat perdagangan dan transit.

Biak Family

Hingga saat ini, kota Biak masih menjadi kota terbesar di pulau tersebut, sekaligus menjadi pusat akomodasi dan perjalanan. Posisinya yang berada 1° selatan garis khatulistiwa membuat Biak senantiasa beriklim tropis dan lembab, dengan hujan yang bisa turun tiba-tiba di siang hari.

PERANG DUNIA II

Pada Perang Dunia II, tentara Jepang membangun lapangan terbang di Pulau Biak, yang sekaligus berfungsi sebagai markas utama mereka di daerah pasifik. Ketika pertempuran Biak (Battle of Biak) terjadi pada 27 Mei – 20 Juni 1944, tentara Amerika akhirnya menduduki Pulau tersebut. Pertempuran ini tercatat dalam sejarah sebagai sebagai pertempuran pertama di pasifik dimana kedua belah pihak menggunkana tank. Selain itu, dalam pertempuran ini pihak Jepang untuk pertama kalinya menerapkan taktik menyerang yang berasal dari ilmu militer untuk menahan pasukan Amerika Serikat. Cara menyerang ini kemudian menjadi pola yang menjadi ciri khas pertarungan brutal di area Pasifik Selatan, atau south pacific campaign.

World War 2, Biak

War using tank, Biak

Lapangan terbang yang strategis di biak itu diberi nama baru, Mokmer dan digunakan oleh Angkatan Udara Australia. Hingga saat ini, lapangan terbang tersebut masih digunakan dan dan dikenal dengan nama Bandara Frans Kaisiepo. Ketika pasukan sekutu menggunakan seluruh pulau biak sebagai lapangan terbang, komandan Douglas Mac Arthur mengambil kesempatan itu untuk menyerang Filipina. Di kemudian hari, pulau biak menjadi markas militer utama bagi pasukan TNI, lengkap dengan pangkalan untuk Angkatan Laut di perairan teluk Cendrawasih.

Sampai sekarang, kita masih bisa dengan mudah menemukan sisa – sisa markas militer di berbagai daerah di pulau tersebut. Pulau Biak adalah situs sejarah perang dunia II yang sangat penting, dan berperan sebagai pengingat akan pertarungan brutal yang terjadi di masa lalu.

Salah satu bukti perang dunia ke 2 pernah dimulai di pulau ini adalah dibangunnya beberapa tugu peringatan, baik oleh pihak jepang maupun pihak sekutu. Disini anda bisa melihat monument parai, monument yang dibangun jepang untuk mengenang korban – korban yang jatuh semasa perang. Daerah ini di tahun 1942-1944 digunakan Jepang sebagai tempat berlatih. Berlatih menyerang ke Pearl Harbour? Hmm… Berarti harusnya di Film Pearl Harbour biak juga dimasukin ya, hehe.. Selain itu ada Tugu Peringatan Shinto di desa Yenburwo dan Tugu Perang AS yang dibangun oleh tentara AS untuk memperingati serangan ke Biak Numfor.

Selain tugu, disini kita juga bisa melihat gua jepang. Gua ini pada masa perang dunia digunakan jepang sebagai tempat bersembunyi sekaligus tempat penyimpanan logistik. Konon sekitar 5000 tentara jepang tewas dalam pertempuran di gua ini.

Jika anda menyempatkan untuk diving di sekitar pulau ini, anda juga akan bisa melihat pesawat PBY Catalina yang tenggelam di kedalaman di lepas pantai timur pelabuhan Biak. Tenggelam di kedalaman 30 meter, pesawat ini masih terbaring utuh. PBY Catalina adalah pesawat terbang amphibi buatan Amerika yang diproduksi Consolidated Aircraft antara tahun 1930 sampai 1940. Diperlengkapi oleh bom, torpedo dan senapan mesin, pesawat ini menjadi salah satu pesawat multi-role yang paling sering digunakan selama perang dunia ke 2. Tidak ada catatan jelas sebab pesawat ini tenggelam, namun kalau dilihat dari keutuhan seluruh body pesawat, hampir tidak mungkin jatuh karena tembakan musuh. Besar kemungkinan jatuh karena problem teknis kerusakan mesin. Saya sudah melihat langsung lho pemirsa, jadi sudah boleh cerita hehehe…

Pesawat Catalina, sisa PD 2

HEAVEN IS UNDER THE SEA

Tinggalkan perang dunia ke II, karena kita sudah mulai membahas diving. Membahas pemandangan laut di Biak artinya membahas surga kecil yang Tuhan ciptakan… Hmmm sedikit hiperbolis tapi bagi anda yang sudah pernah melihat langsung, pasti sepakat dengan apa yang saya tulis. Banyak spot diving disini, dan semuanya sangat layak untuk dikunjungi.

Dimulai dari kepulauan Padaido, terutama di pulau Rurbas dan Pakreki. Kepulauan ini disebut juga sebagai “Schoutenlands” setelah William Schouten menemukannya tahun 1962. Padaido sendiri adalah istilah lokal yang bermakna “keindahan tiada tara”. Begitu melihat sendiri airnya yang jernih, dan pantainya yang berpasir putih serta keindahan ekosistem bawah lautnya, anda akan mengerti.

Biak Beach, wonderful

goooddd....

Kebetulan saya sudah dive di Pantai Bosnik, Pakreki dan di lokasi pesawat jatuh. Luarbiasa!! Terumbu karang yang masih sangat bagus ditambah kelompok2 ikan yang berjumlah ratusan berseliweran di depan kita membuat isi tabung oksigen menjadi terasa sangat sedikit. Ingin sekali berlama – lama di bawah laut bermain dengan ikan – ikan yang muncul dari soft coral (padahal kalau melihat ikan gede dikit aja langsung ciut hehehe).

Bagus bukan main...

Finding Nemo

Selain itu, spot – spot diving yang juga bagus ada di Tanjung Barari, lokasinya di ujung pulau biak dan hanya bisa di akses menggunakan kendaraan pribadi. Lalu Pulau Meosindi (arah menuju pulau Yapen), Pulau Rani yang berada di pantai barat Biak.

otak raksaksa hahagaga

Tempat terbaik untuk menyelam? Anda (dan saya juga) harus ke Pulau Mapia. Meski sedikit sulit untuk dicapai, pulau yang berada di arah barat laut Pulau Supiori ini disebut – sebut sebagai tempat menyelam terbaik di seluruh daerah biak. Anda cukup menghubungi dive operator disana (Bp Hengky dari Dinas Pariwisata), tentukan hari dan selanjutnya anda tinggal datang saja, karena semua peralatan sudah disiapkan.

new kids on the beach🙂

Aerotel Biak, good hotel...

Jadi kesimpulannya apa ya? ….

Pulau ini sangat layak untuk dikunjungi, sambil belajar sejarah dunia, kita juga disuguhi pemandangan alam yang luar biasa. Pulau ini, meskipun letaknya di ujung Indonesia dan terlupakan, ternyata punya peran yang sangat penting selama PD II. Beruntunglah saya karena setiap perjalanan ke pulau ini adalah gratis, karena dalam rangka work visit alias kunjungan kerja, hehehe…

Twilight in Biak

Next visit dive ke Pulau Mapia sepertinya oke juga…🙂

Ayo ke Biak!!!

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on December 10, 2011, in Life is for Living, Lihat - Lihat and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Jadi kangen biak setelah baca artikelnya… The one of most beautifull creatures i ever
    Iived… Gak nyesel tiket pesawat mahal kesini untuk jelajah pantai

  2. Waaahhh ..
    Kerenn bangettt ..
    Tapii kalau jalan-jalan ke kota biak ..
    Hati-hati pantau napi pegang doka ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: