Pergi, ke wakatobi… (catatan bagian 1)

Tahun 2012 buat saya adalah tahun yang spesial, ada banyak kenangan manis yang mengisi di tahun yang juga merupakan angka favorit saya (no 12, no punggung favorit kalau main bola hehe). Pertemanan, pekerjaan, financial (bebas utang selama 1 tahun penuh merupakan prestasi pribadi buat saya), asmara (hehehey). Kalau sudah diisi dengan hal – hal yang menyenangkan, tentu tidak salah jika ditutup dengan hal yang menyenangkan juga. Desember tahun lalu ditutup dengan Sabang dan Raja Ampat.

Desember tahun ini…? Mari bersenang – senang di Tomia.. ‘TO’ di WaKaToBi😀

Tomia adalah pulau dengan nomor urut 3 di Wakatobi, setelah Wangi Wangi dan Kaledupa. Tampak dari belakang banyak yang mengacungkan jari ke atas ingin bertanya, oke saya tahu pertanyaannya. Wakatobi itu apa? Siapa? Wakatobi sendiri adalah kabupaten kepulauan di propinsi Sulawesi Tenggara, berdekatan dengan pulau Buton (penghasil aspal berdasarkan buku pintar). Memang perlu resolusi peta yang lumayan tinggi untuk bisa zoom in karena kepulauan ini hanyalah sekumpulan titik di peta, seperti remah remah roti di meja makan besar…

Image

Tapi jangan sekali – sekali menyepelekan hal – hal kecil ya. Seperti Yesus yang lahir di palungan domba yang kecil dan seperti Messi si kecil yang tak henti mencatat rekor – rekor baru, begitu juga Wakatobi si kepulauan kecil yang punya arti dan peran yang sangat penting bagi ekosistem bawah laut. Bukan melulu soal keindahan, wakatobi adalah tempat dimana 750 jenis terumbu karang hidup…dari total 850 jenis. Sebagai perbandingan (ane baca di web sih) laut karibia hanya memiliki 50 spesies, sementara laut merah hanya 300 spesies.

Jadi semacam kombinasi Carrefour dan Ace Hardware jika wakatobi adalah hypermarket, semacam melihat timnas perancis 1998 yang menjadi juara piala dunia jika wakatobi adalah sebuah tim sepakbola, semacam melihat Indonesia yang beragam tetapi harmonis dan penuh senyum jika wakatobi adalah negara hehehe…   Ada beberapa peran penting wakatobi yang lain, selengkapnya bisa dibaca disini kali ya.. link 1 dan link 2

Dengan posisi saya yang sekarang ada di Kendari, tepat rasanya jika menghabiskan liburan akhir tahun di sana, dengan tetap gaya backpackeran yang pasti (1 tas isi pakaian dan laptop buat kerja, 1 tas besar dijinjing buat kebutuhan lain lain, backpackeran dari mana begini)

Day 1… Kendari – Wangi Wangi (Wanci)… “Tur pantai di Wanci”

Mungkin karena baru saja divisit obos obos dari kantor pusat, bikin itinerary a, b, c dst, book akomodasi, transportasi, konsumsi dll se detail – detailnya, jadi berpengaruh ke liburan kali ini. Saya googling, open new tab demi tab, melihat apa yang harus dikunjungi, mau gaya liburan seperti apa disana, point of interest nya apa, pilihan transportasinya seperti apa, contact personnya siapa dll. Akhirnya ketemu itinerary yang pas. Kendari – Wanci (1 hari) – Tomia (3 hari) – Bau Bau (2 hari) – Kendari.

Peta Perjalanan

Kita naik pesawat dari kendari, langsung ke Wanci. Selain hemat waktu, ternyata juga lebih murah. Sebenarnya ada pilihan lain, naik kapal cepat dari kendari ke bau bau, stay sehari di bau bau lanjut naik kapal cepat lagi esok harinya ke wanci. Tetapi opsi ini tidak efektif dan lebih mahal hehe.. Terbang dengan Wings ATR sekitar 50 menit, sambil membayangkan liburan jadi sangat tidak terasa hehe..

Tiba di Bandar Udara Matahora (Tidak ada hubungan dengan Manohara yow), foto – foto sebentar biar eksis, langsung mencari taksi dan meminta tolong mencarikan penginapan murah..

Bandara Matahora

Awalnya mencari ojek, ternyata tidak ada ojek di Bandara ini. Tidak terlalu susah mencari penginapan murah, karena pilihan nya juga terbatas hehehe. Setelah ketemu, taksi yang sama kita book untuk menemani muter – muter di pulau Wangi Wangi ini, melihat – lihat pantai. Ada beberapa titik yang kita singgahi. Pantai Waha/Cemara (Karena banyak pohon cemaranya di pinggir pantai), Core Map (lokasi LSM Core Map), Pantai Waelum, dan Patuno Resort, dan terakhir ke Pantai Pabrik Es (karena ada pabrik es nya disitu).

Pantai yang paling terkenal adalah pantai waha. Selain garis pantainya yang panjang, disana juga banyak pohon kelapa dan cemara tempat berteduh. Sedikit disayangkan lokasi pantainya dekat dengan perumahan penduduk jadi ada sampah yang berserakan di pinggir pantai…

Pantai Waha/Cemara

Waha

Di Waelum kita bisa bersantai karena tempat ini ditata dengan rapi. Disediakan tempat untuk duduk dan juga beberapa penjual jajanan/gorengan. Cukup membuat nyaman dan riang hehe. Menyeruput kopi, mengunyah pisang goreng yang masih panas, bercanda dengan teman – teman di pinggir laut, di sore hari, membayangkan saja sudah membuat hati senang ya🙂.

Santai di Waelum

Tempat yang paling rapi, dan terlihat elegan ada di Patuno Resort. Resort ini dimiliki oleh Bupati Wakatobi dan menurut saya dikelola dengan baik. Selain tempatnya nyaman, pantainya juga bersih dan resort ini juga menyediakan fasilitas diving. Sebagian besar turis asing biasanya memilih menginap disini. Info yang tidak bisa dipertanggung jawabkan menggosipkan Arumi Baschin sewaktu kabur juga berleha leha di resort ini, wallahualam…

Patuno Resort

Patuno Resort

Laut teduh…

Sebelum kembali ke penginapan, kita singgah sebentar di pantai pabrik es, untuk melihat sunset. Sayang kondisi langit mendung waktu itu jadi matahari tertutup awan. Tapi tidak membuat hati ikut mendung sih, karena sudah ceria seharian melihat – lihat pantai hehehe…

Sea view from pabrik es

Masih banyak tempat yang oke untuk dikunjungi sebenarnya. Ada air terjun, gua gua karang, dive spot dll. Hanya waktu yang terbatas di Wanci membuat tidak semua tempat bisa dikunjungi. Hanya 1 malam disini, karena besok pagi sudah harus pergi ke pelabuhan, naik kapal menuju Tomia, the main destination of the vacation🙂

Day 2… Wanci – Tomia… “I Come, I Lunch, I Dive”

27 Desember, 08.00 WITA. Selesai transit di Wanci, saatnya bergegas ke pelabuhan kecil Jabal, menaiki speed boat menuju ke menu utama “Tomia”. Pelabuhannya ada di perumahan suku Bajo. For your information, suku Bajo ini adalah suku yang habitatnya hidup di perairan, dan, believe it or not, mereka bisa menyelam tanpa alat (free dive) sampai di dasar laut, hingga 12 menit! Yup, 12 menit! Menyelam, berjalan jalan di dasar laut tanpa alat, menangkap ikan. Layaknya putri berjalan anggun di kebun anggur, dengan elok memilih anggur tercantik yang ingin dipetik. Captain Jack Sparrow sudah pasti akan kewalahan kalau bertarung dengan Suku Bajo ini.

Ini dia, kapalnya…

Suku bajo, menangkap ikan

Di tomia sudah menunggu Dr.Yudi, dokter PTT yang bertransformasi menjadi dive master dan membuka dive center disana. Saking cintanya dengan Tomia, PTT nya sudah ia perpanjang sampai 4 kali hehehe. Seperti Dr Banner yang memilih mengabdikan diri di daerah terpencil di India agar emosinya terkontrol dan tidak berubah menjadi Hulk hehe..

‘Pelabuhan’ Jabal

Bajo House

Perjalanan ke tomia memakan waktu sekitar 3 jam. Di perjalanan kami menemukan teman baru, yang setelah berkenalan ternyata banyak nyambung nya (daerah asal, teman kuliah, hobi travelling, motto hidup, kata – kata mutiara……). Karena kita mencari orang yang sama, si Dr.Yudi, akhirnya disepakati kita bergabung menjadi 1 grup, beramai ramai mencari si Dokter… Hal – hal begini yang membuat perjalanan lebih menarik, bertemu orang baru dengan banyak kemiripan sehingga bisa bersenang – senang bersama hehe..

O ya di perjalanan menuju pelabuhan Tomia, speed boat melewati Wakatobi Dive Resort. Resort eksklusif milik Om Lorentz, warga Swiss. Kenapa eksklusif? Dia punya landasan pesawat terbang sendiri, menerbangkan tamu langsung dari bali. Untuk 1 kali terbang butuh 600 USD pemirsa.. 1 hari dia hanya mau melayani maksimal 60 tamu (100% tamu nya pasti mengambil paket dive). Setiap hari full booked, artinya 60×356 hari. Mau berlibur di wakatobi dive resort? Anda harus mengantri kurang lebih 4 tahun ya, karena sudah full booked sampai 4 tahun ke depan hehehe.. Tamunya? Salah satunya Raja Jordania…

Wakatobi Dive Resort

Hello Tomia

Oke, tak jauh dari Wakatobi Dive Resort, kita tiba di Pelabuhan Usuku. Rombongan kecil ini langsung menyewa ojek menuju penginapan Abi Jaya, tempat nanti kami menginap dan bertemu dengan Pak Dokter.

Karena kurang referensi mengenai penginapan ini, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi, hanya membayangkan sebuah penginapan sederhana, tidak terlalu bersih dengan fasilitas seadanya. Setelah sampai disana, saya salah total. Penginapan ini bersih, luas, kasurnya empuk, kamar mandi bersih, dan orang – orangnya ramah dan sangat murah tangan, wow…😀. Dan setelah bertemu dengan si dokter, ternyata dokter ini masih muda. Fakultas Kedokteran UI angkatan 2002 (angkatan sama, fakultas dan universitas beda hehe). Orangnya juga ramah dan menyenangkan. Setelah mengobrol sebentar, kita diajak makan siang dan setelahnya langsung menuju dive spot pertama. I Come, I Lunch, I Dive, yihaaa…

Welcome to Tomia

Spot dive pertama adalah di table coral city, sesuai namanya, sudah pasti akan banyak table coral (karang berbetuk bundar sehingga mirip seperti meja). Kalau banyak karang artinya pasti banyak ikan.. Saya tidak tidak terlalu pintar mendeskripsikan pemandangan bawah laut. Jenis ikan apa saja yang ada, species coral, soft coral, dll. Yang pasti saya terkagum – kagum dengan pemandangan dibawah laut ini. Tidak kurang Tuhan memberi keindahan untuk disyukuri. Disyukuri dengan bentuk dinikmati dan dijaga tentunya🙂

Mari menyelam…

Coral with hundred of fish

Ikan berseliweran

That is Table Coral

Sayur mayur segar, sayur mayur segar…

Sea Fan and Sharm

City of Table Coral

Selesai di table coral city, saatnya kembali ke hotel, membersihkan badan dan bersiap untuk makan malam (disuguhi makanan enak dengan porsi berlimpah). Baru tiba disini tetapi sudah ada kesimpulan, tidak salah memilih Tomia sebagai destinasi di Wakatobi…

Bertemu teman – teman baru, mendapat penginapan yang oke, makan siang yang nikmat, melihat pantai yang bersih menyatu dengan langit biru, suasana yang super tenang bahkan suara ombak pun tidak ada, dan bisa menikmati pemandangan bawah laut yang luar biasa.. Perfect!

See u in Tomia day 2…

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on January 15, 2013, in Lihat - Lihat and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. dimakan dong sayur mayurnya

  2. aku terharu dan terkesimak melihat keindahan wakatobi,,, dan sampai saat ini aku terus kefikiran utk ingin tinggal di wakatobi dengan tujuan memelihara kelestarian wisata yang ada di wakatobi… sampai menjadi sukarelawanpun aku mau karena itu sudah menjadi kebulatan hati saya.

  3. jika ada yang ingin membutuhkan tenaga sukarelawan utk bekerjasama dalam menjaga dan memelihara kelestarian wisata wakatobi, hub aku di mobile phone 081341246066.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: