Pergi, ke wakatobi… (catatan bagian 2)

Krik krik.. krik krik…

Ke Wakatobi Desember 2012, blog update nya Juli 2013. Waktu berlalu begitu cepat, pemirsa… (Ente aja yang males update dul!)

Oke dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada pembaca setia yang sudah menunggu – nunggu catatan bagian ke 2 perjalanan ke wakatobi ini, saya mohon maaf yang sebesar – besarnya, dikarenakan satu – satu nya hal (ya, hanya satu, tidak ada ‘dan lain hal’, yaitu hal males update blog) kenikmatan anda membaca menjadi terganggu. Setelah postingan ini saya berjanji akan lebih rutin lagi mengupdate setiap cerita yang saya punya. (Ngomong ke cermin, pembaca blog ya hanya diri sendiri)

Oke untuk mempersingkat waktu, mari meneruskan cerita yang tertunda selama kurang lebih 6 bulan ini.

Tomia, hari ke 2..!

Kami semua bangun lebih cepat dari biasanya hari itu, pukul 5 pagi. Kenapa? Tentu bukan karena alarm peringatan tsunami, tetapi karena malam sebelumnya kami sudah membuat janji dengan Dr. Yudi untuk berburu sunrise di spot – spot bagus di seputaran pulau Tomia. Ini penawaran khusus dari si Dokter, mungkin karena kami cukup berkesan di perkenalan pertama sehingga dia memberikan extra service hehehe…

Sunrise Tomia

Sunrise Tomia

Kami mengunjungi beberapa tempat, salah satunya adalah pantai huntete. Saat subuh kami melihat dari atas tebing, dengan pantai pasir putih tepat ada di bawahnya. Setelahnya kami turun ke bawah, bermain sebentar dengan pasir putih dan hangatnya air laut hahayy.. Mari kita sebut ini kombinasi uluwatu dan dream land hehe..

Sunrise

Sunrise

Huntete beach

Huntete beach

Mengejar Matahari🙂

Good Morning..

Good Morning..

Another spot

Another spot

Another Spot

Another Spot

Setelah puas di pantai, selanjutnya kami diajak ke bukit. Nama bukit ini cukup indah, Bukit Khayangan, atau Puncak Khayangan. Sesuai namanya, pemandangan disini juga cukup indah. Hamparan rumput hijau di sepanjang bukit dengan pemandangan laut biru dan Pulau Kaledupa di kejauhan. Suasana tenang dan pemandangan yang sangat menyegarkan mata dan pikiran hehe.. Seandainya saja Andhika Kangen Band diajak kesini, tentu dia akan bisa menulis lirik lagu yang lebih puitis dan berkelas. Diajak untuk mencari inspirasi lirik tentunya bukan membawa kabur anak gadis orang. For info tempat ini juga yang dijadikan lokasi syuting film The Mirror Never Lies (Athika Hasiholan dll), dan cukup sukses di festival – festival film Manca Negara.

Bukit Khayangan

Bukit Khayangan

Road of Khayangan hehe

Road of Khayangan hehe

Enjoy

Enjoy

Matahari sudah tinggi, dari puncak bukit kami kembali ke penginapan untuk bersiap lagi menuju bawah laut. Yup, underwater time pemirsa…

Coral table city sudah dinikmati kemarin, menu hari ini adalah sea fan garden dan the most favorite spot menurut banyak orang, mari mabuk spot.

Sea Fan Garden

Sea Fan Garden

Dr Yudi, and Her :)

Dr Yudi, and Her🙂

Lets go

Lets go

Spot pertama adalah sea fan garden, taman kipas laut. Sea Fan adalah coral yang bentuknya menyerupai kipas, dan karena saking banyaknya maka menyerupai taman. Selain sea fan banyak juga berseliweran ikan – ikan beraneka warna dan jenis. Ada juga kura – kura! Yup hewan laut favorit saya ini juga tampak berenang lucu di spot ini. Enjoy the pics for details hehehe…

Sharm

Sharm

Beautiful

Beautiful

We take a moment :)

We take a moment🙂

Hello Turtle!

Hello Turtle!

Selesai di Sea Fan Garden, rombongan kecil ini interval (istirahat setelah selesai dive) di pantai masih di dekat spot tadi. Makan lesehan di pasir putih di pinggir laut sungguh nikmat pemirsa, ditambah lagi perut lapar setelah 40 menit lebih safari bawah laut.

O ya sebelumnya Pak Dokter mengajak Dita, teman travelling yang kita kenal di Wanci, discovery dive. Discovery adalah menyelam untuk pemula/belum pernah menyelam, dengan sepenuhnya di tuntun oleh Buddy/Instruktur. Jadi meskipun belum bersertifikasi tetap bisa menikmati alam bawah laut nya wakatobi, dengan persiapan juga tentunya.

Dive spot selanjutnya adalah Mari Mabuk. Kenapa namanya Mari Mabuk? Konon ceritanya si penemu serasa mabuk (fly) melihat keindahan spot ini. Bahkan ada cerita scuba diver yang kehabisan oksigen karena tidak mau naik. Entah benar atau tidak, yang saya yakini adalah spot ini pasti istimewa. Setelah turun, ternyata benar – benar… Sitimewa!! (Sitimewa adalah superlative dari Istimewa).

Mari Mabuk Bersama...

Mari Mabuk Bersama…

Hello there... :)

Hello there…🙂

Akuarium 3D Wallpaper

Akuarium 3D Wallpaper

Mari Mabuk adalah semacam akuarium dari berbagai biota laut. Semacam kesimpulan jika tujuan kita menyelam adalah melihat keindahan laut. Semua tersaji dengan indahnya. Anemon dan Clown Fish (Si Nemo) bertebaran, ikan – ikan berserakan seperti sampah, ada GT Schooling (School Fish = Gerombolan ikan) berputar – putar seakan sudah disetting default seperti wallpaper 3D di windows 7. Ada juga sekumpulan kol raksasa (saya tidak tahu namanya), tapi ya, seperti ladang kol saja kelihatannya. Table Coral, Sea Fan, dan Coral Coral yang lain juga tidak kurang banyaknya disini.

School Fish, gerombolan ikan

Ladang kol

Ladang kol

4-22

Asyik menikmati mari mabuk, tidak terasa ketika melihat isi tabung, tinggal tersisa 20 bar! Dengan kedalaman sekitar 20 meter, untuk melakukan safety stop diperlukan kurang lebih 50 bar isi tabung. Saya memberi kode ke Pak Dokter. Untung Dokter dengan cekatan membawa saya naik, memegang tangan saya, melihat ke dive comp dan melakukan safety stop darurat. Jika safety stop ini tidak dilakukan, atau salah dilakukan, bisa fatal akibatnya. Mulai dari pusing dan mual, dekompresi (darah keluar), dan yang paling fatal adalah kehilangan nyawa. Spot ini benar – benar sesuai dengan namanya pemirsa. Scuba diver yang saya ceritakan rela kehabisan oksigen terjadi juga dengan saya hehehehe… Mari Mabuk!!

Anemon

Pengalaman luar biasa di wakatobi 1 hari penuh ini akhirnya berakhir setelah sesi Mari Mabuk. Mulai dari subuh di sesi mengejar matahari, dive di sea fan garden bertemu kura – kura, dan  terakhir di Mari Mabuk sitimewa.

Sharm, wanita warga Negara Singapura, yang lebih dulu tiba di Tomia dan dive dengan pak Dokter banyak bercerita mengenai pengalamannya berkeliling. Eropa, beberapa Negara Asia, dan Indonesia. Termasuk pengalamannya menyelam di beberapa tempat. Tidak ada yang mengalahkan Indonesia katanya. Keindahan dan perjuangan nya berbanding lurus hehe. Semoga bukan hanya pemanis karena dia sedang di Indonesia dan berbicara dengan orang Indonesia.

Afterall, melihat apa yang sudah saya lihat di bawah sana, rasanya seharusnya memang susah mencari tandingannya.. Hidup Indonesia, merdeka!!!

Viva Tomia!!

Viva Tomia!!

Photos by : Me except me in it

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on July 7, 2013, in Life is for Living, Lihat - Lihat and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: