Taka Bonerate : The long and stormy (yet wonderful) trip

Kenapa akses ke hampir semua tempat indah di Indonesia itu susah? Jawabannya mungkin : Karena jalan ke surga memang pasti susah…

Raja Ampat, Wakatobi, Ambon, dan banyak lagi.. Susah secara kondisi alam dan juga akses.

“The traveler sees what he sees. The tourist sees what he has come to see.”
― G.K. Chesterton

 

Libur lebaran lalu, saya dan istri sebenarnya sudah menyiapkan plan untuk pulang ke Medan, travelling seputaran Sumatra Utara. Tapi karena cuti tidak di approve (karena alasan tidak ikut merayakan lebaran hehe) maka rencana berubah dan waktunya juga sangat mepet karena Travel Notification cuti di reject hanya beberapa hari sebelum libur lebaran.

Karena istri saat ini berdomisili di Makassar, maka pilihan pertama untuk menghabiskan libur lebaran adalah di Makassar dan sekitarnya.. Sebagai traveler sejati (hayaah hayaahh..) Mal, Losari, Trans Studio tidak kita masukkan ke dalam daftar tujuan. Kita memilih yang lebih menantang dari itu hehehe… setelah diskusi, juga konsultasi dengan Google, kita memutuskan untuk pergi ke Toraja (utara Makassar) dan setelahnya langsung putar haluan ke selatan, tepatnya ke Taka Bonerate

Tulisan ini akan bercerita tentang Taka Bonerate. Taman Nasional luar biasa di Selatan Sulawesi

17 Jam perjalanan

Taka Bonerate adalah kepulauan atol terbesar ketiga di dunia. Daerah ini menjadi taman nasional untuk melindungi kekayaan bahari, terutama terumbu karang nya.

Untuk sampai di Taka Bonerate, kita perlu melewati Pulau Selayar, tepat di Selatan Pulau Sulawesi.

Untuk sampai di Selayar, ada 2 jalur yang bisa ditempuh. Jalur pertama adalah jalur udara via Lion Air dan Aviastar. Tiket aviastar sendiri cukup terjangkau, hanya Rp200rb untuk 1 kali penerbangan. Sayangnya, tiket Aviastar waktu itu sudah habis, dan jadwal Lion Air tidak sesuai dengan schedule yang sudah kami rencanakan dengan dive operator di Taka Bonerate.

Karena itu, kami menempuh jalur kedua, yaitu jalur darat+laut.

akses

Pukul  4 pagi kami dijemput oleh mobil  travel, yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Bira, di Bulukumba. Dekat dengan Tanjung Bira yang tersohor itu. Jam 8 pagi, kami memasuki feri, melanjutkan 2 jam perjalanan di Laut menuju Pelabuhan Pamatata, Selayar.

Pelabuhan Bira

Pelabuhan Bira

Setelah 2 jam terombang ambing di Laut (waktu itu puncak ombak besar), kami tiba di Pelabuhan Pamatata, melanjutkan perjalanan sekitar 1 jam ke Kota Benteng, ibukota Kabupaten Selayar

Pelabuhan Pamatata, Selayar

Pelabuhan Pamatata, Selayar

Tiba di Benteng pukul 11, artinya kami sudah melakukan perjalanan sekitar 7 jam.

Di Benteng, kami bertemu dengan dive operator yang akan menemani kami selama di Taka Bonerate. Bang Acca panggilan akrabnya. Tampilan fisiknya membuat saya awalnya berpikir orang ini tidak cukup friendly. Pemikiran sesat pada akhirnya setelah berkenalan dan 3 hari berpetualang bersama.

Setelah makan siang dan menyiapkan alat, kami berjalan lagi menggunakan mobil, 1 ½ jam menuju pelabuhan Pattumbukan di selatan selayar, tempat kapal menunggu untuk mengantar kami ke Pulau Tinabo, di Taka Bonerate

Tiba di Pelabuhan Pattumbukan pukul 3 sore, sudah 8,5 jam kami menghabiskan waktu di perjalanan

Disini cerita serunya dimulai…

Ombak tinggi yang sudah menyerupai badai menemani 6 jam perjalanan kami menuju Tinabo. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu maksimal 4 jam saja. Sepanjang perjalanan, Nahkoda tidak pernah duduk tenang. 6 jam dia berdiri, serius memegang kemudi sambil berusaha menghindari ombak tinggi. Awak kapal juga berulang kali terlihat tersenyum memaksa agar kami juga tidak ikut panik.

Istri sudah sangat panik waktu itu, berulang kali bertanya sampai kapan ombak akan berhenti mengantam kapal. Saya, yang sebenarnya juga sudah takut, hanya berusaha bersikap tenang, agar keadaan tidak bertambah menyeramkan. Baju kita sudah basah kuyup terhantam ombak, mulut juga sudah asin karena berulang kali terkena air laut. Sebelum ini, saya sudah berulangkali mengalami ombak tinggi, bahkan badai di laut, tapi tidak pernah secemas ini. Kita harus selalu memegang bagian kapal, apapun yang bisa menguatkan posisi agar tidak terlempar atau terdorong ke laut.

Setelah 5 jam terombang ambing melewati laut lepas,dan masuk ke kepulauan Taka Bonerate, barulah laut menjadi sedikit tenang. Kami mulai bisa menikmati pemandangan malam di laut yang khas, yaitu taburan bintang di langit. Beberapa kali terlihat bintang jatuh, cukup membuat hati nyaman setelah perjalanan yang menyeramkan.

Pukul 9 kami tiba di Pulau Tinabo, lokasi dive center dan penginapan di Taka Bonerate

Berangkat pukul 4 pagi, tiba pukul 9 malam. 17 Jam perjalanan hari ini kami tempuh dari Makassar, menuju Taka Bonerate

Tinabo Island, day 1

Saya bangun cukup pagi hari itu. Alasannya simpel, saya ingin menikmati sunrise dari tepi pantai Tinabo. Saya dan Bang Acca – yang ternyata juga sengaja bangun pagi – berjalan menyusuri pantai dan dermaga sambil mengabadikan sunrise, sambil bercerita mengenai Taka Bonerate. Sebenarnya, dia sedang dalam masa perayaan hari raya Idul Fitri. Tapi karena ada tawaran pergi ke Taka Bonerate, dia mempercepat libur lebarannya. Dia memilih pergi menyelam daripada berkumpul bersama keluarga🙂. Dia juga bercerita tentang kawanan anak hiu yang setiap hari berkumpul, di tepi pantai, persis di depan guest house! Jadilah pagi itu saya habiskan dengan bermain bersama anak hiu di tepi pantai. Ya, anak hiu di tepi laut lepas, bukan di kolam penangkaran🙂. Jumlahnya bisa belasan, mengitari kaki kita hehe..  Melihat hamparan pasir putih dan hiu kecil membuat rasa letih dan waswas perjalanan panjang tadi malam langsung hilang. Ini kali pertama saya melihat hiu, atau lebih tepatnya gerombolan hiu🙂

Morning, Tinabo

Morning, Tinabo

Sunrise, Tinabo

Sunrise, Tinabo

Enjoy sunrise

Enjoy sunrise

Looking for sharks (seriously)

Looking for sharks (seriously)

Tinabo Island

Tinabo Island

Tinabo Island

Tinabo Island

Setelah sarapan dan santai sejenak, kita berangkat ke spot dive pertama, Ibel Orange.

Ada puluhan dive spot di sekeliling kepulauan Taka Bonerate. Menurut informasi yang saya baca dan obrolan dengan Bang Acca dan bang Ronald (dive master di Tinabo), Ibel orange adalah salah satu dive spot favorit disini. Perjalanan kami ke dive spot sekitar 15 menit, masih dilalui dengan ombak kencang. Tetapi ketika masuk ke dalam, tidak ada arus dan gelombang air seperti di permukaan, semua tenang!

Saya tidak terlalu bisa mendeskripsikan isi laut yang saya lihat. Kalau indah dan menawan itu pasti, dan mutlak. Tetapi untuk lebih detail apa saja yang saya lihat, lebih baik lewat gambar ini saja ya..

Hunting

Enjoy the park

Beautiful

Akuarium

  

Ibel Orange

Ibel Orange

Dibandingkan dengan wakatobi, raja ampat, bunaken, derawan atau pulau komodo, tempat ini memang lebih minim promosi. Padahal statusnya sama dengan tempat – tempat tersebut, yaitu taman nasional. Jika dikemas dengan lebih baik dan profesional, saya rasa kita akan punya resort – resort luar biasa layaknya Maldives, bahkan mungkin lebih baik. Profilnya sama, yaitu atol raksasa, pantai dan pasir putih, serta puluhan dive spot bagus. PR buat pemerintah tentunya. Semoga yang membaca blog ini bisa terinspirasi dan memilih Taka Bonerate sebagai destinasi wisata selanjutnya. Maaf,  yang lebih penting sebelumnya, semoga ada yang membaca blog ini ehehehe…

Selesai menikmati indahnya Ibel Orange, kami interval sambil menyantap makan siang di kantin Pulau Tinabo. They served us a lot of good food by the way.

Dive spot kedua adalah Acrapora Point. Dive spot ini juga tidak terlalu jauh dari Pulau Tinabo Besar. Kami bisa menyelam sambil melewati table coral yang cukup besar, schooling fish dan banyak lagi keindahan – keindahan yang susah untuk diceritakan lewat tulisan, lebih pas rasanya jika melihat langsung, sebelumnya bisa lewat foto – foto ini hehe..

Acropora 1 Acropora 2

Fishes and Corals

Fishes and Corals

Selfie spot :)

Selfie spot🙂

Writing the  good moment :)

Writing the good moment🙂

Just the two of us

Just the two of us

Acara molo (menyelam dalam bahasa Papua) berakhir dengan manis, dilanjutkan dengan menunggu sunset. Sebelumnya kami diajak ke bagian belakang komplek, tempat penangkaran penyu. Bang Ronald dan team disini juga melakukan kegiatan konservasi penyu. Telur – telur penyu dirawat dan setelah cukup umur mereka di lepaskan ke habitatnya di laut lepas. Karena penyu adalah hewan favorit saya di laut, maka kegiatan melihat penyu – penyu kecil ini juga cukup menyenangkan buat saya🙂

Cepat besar, bertambah banyak dan penuhilah laut :)

Cepat besar, bertambah banyak dan penuhilah laut🙂

Kegiatan disini juga banyak kita habiskan dengan senda gurau. Bang Acca cukup punya bakat menjadi pelawak. Apa pun yang dia ceritakan menjadi sangat lucu. Bahkan Bang Ronald yang sudah berulang kali mendengar cerita nya juga tetap tertawa. Pulau yang hanya diisi tidak lebih dari 15 orang itu menjadi lebih hangat karena suasana ceria yang di tularkan Bang Acca. Setelah tulisan ini selesai akan saya berikan nomor nya ya, mungkin ada yang tertarik pergi ke Selayar atau Takabonerate bisa menghubungi dia. Kenapa setelah tulisan ini selesai? Agar kalian tetap membaca sampai selesai tentunya (Padahal bisa aja langsung di scroll down).

Sebelum sunset, kita menyempatkan bermain dengan kawanan hiu yang tetap bergerombol di pinggir pantai. Bang Ronald memberikan jatah makan sore, beberapa potong ikan segar pada hiu – hiu tersebut. Setiap kali potongan ikan segar di lempar, si hiu akan langsung berebut. Karena kita ada di antara mereka, jadi hiu – hiu itu berebut makanan, berenang diantara kaki – kaki kita hehe.. Kesimpulan yang bisa saya ambil, mereka masih hiu yang waras, lebih memilih ikan daripada betis saya🙂

Mereka berebut makanan, kita berpose demi eksistensi diri hehehe…

Feeding the sharks

Feeding the sharks

Say shaarrkkk

Say shaarrkkk

Take a pose

Take a pose

IMG_2483

Oya mengenai sunset, pulau tinabo ini juga cukup unik. Kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari tempat yang sama. Sunrise dari sebelah kanan, sunset dari sebelah kiri.

Sunset Tinabo

Sunset Tinabo

Sunset Tinabo

Sunset Tinabo, beautiful

Sunset Tinabo 3

The golden sky

Sunset Tinabo

Acara makan malam dilanjutkan dengan sesi drama kisah hidup Bang Acca yang sebenarnya cukup tragis, tetapi diceritakan dengan sangat, sangat lucu. Saya terpingkal pingkal, tidak bisa berhenti tertawa malam itu. Kami juga mendapat kejutan dari bang Ronald, berupa video dokumentasi selama kami berada disana. Video sudah di edit dan untuk sebuah video yang waktu editnya kurang dari 12 jam, video itu sangat layak tonton.

Afterall, For me, that was pleasure. I might not get the luxuries here, but I still get warmth. I could enjoy God’s creations, I met new people that I didn’t need to be afraid of, because we were in this place for the same purpose. Not only didn’t  be afraid, I actually really enjoyed my time with them🙂

2 hari di Tinabo Island, kami kembali ke Selayar, dengan perjalanan yang lebih bisa dinikmati karena ombak yang lebih bersahabat. Tidak sampai semalam di Selayar, kami kembali ke Makassar lewat jalur darat.. Terimakasih banyak untuk Bang Acca yang sudah menyediakan tumpangan gratis di rumahnya, we owe you…🙂

You can contact Bang Acca here : 082188884788

Thank you...

Thank you…

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on March 1, 2015, in Lihat - Lihat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: