Tele, The Astonishing Hills

Ada banyak tempat keren di Indonesia. Tiap daerah, mungkin punya tempat luar biasa. Bukan mungkin sih, tiap daerah pasti punya. Banyak yang mendapat bintang 5 di situs perjalanan wisata, tidak sedikit juga yang namanya saja hampir tidak dikenal.

Salah satu yang masih belum mendapat exposure yang layak itu adalah Tele, di Pangururan, perbatasan Pulau Samosir.

18 Tahun hidup di Medan, dari usia anak kecil bisa berjalan, sampai umur 18 tahunan, hampir selalu rutin berwisata ke Danau Toba, tapi belum pernah 1 kali pun saya mendengar cerita keindahan tempat bernama Tele ini. Cerita tentang danau Toba selalu berkisar di Danau Toba, Parapat, dan Pulau Samosir. Itu saja, belum ada ada cerita seperti apa Tele. Padahal tempatnya masih di sekitaran Pulau Samosir dan merupakan akses keluar dari Pulau Samosir menuju ke daratan Sumatra.

Oke, sekarang kita cerita saja seperti apa tempatnya…

Melewati Tele ini sebenarnya bukan pilihan utama karena tujuan awal kita adalah melihat Danau Toba, menginap di Parapat, menyebrang ke Pulau Samosir dan pulang ke Medan. Yup, itinerary yang cukup mainstream.

Ditengah perjalanan ke Danau Toba, ibu saya (kita berangkat 1 keluarga, family day ceritanya) bercerita tentang Tele, tentang cerita tetangga yang pernah lewat dan menyarankan kesana kalau sedang di Pulau Samosir, karena tempatnya cukup indah. Jadi selain ini diluar plan, status tempat ini juga masih ‘ceritanya’/‘katanya’.

Rute

Singkat cerita, kita pun tiba di Parapat, menginap 1 malam, dan esok paginya langsung mengantri di Pelabuhan menuju ke Pulau Samosir. Teman – teman yang belum pernah ke Danau Toba, untuk gambaran saja, Danau Toba ini luasnya 3000 meter persegi, atau 100km x 30km. 4 kali lipat dari Negara Singapura yang luasnya 704km2. Sementara pulau samosir sendiri luasnya kurang lebih 640km2, hampir sama dengan Negara Singapura. Kenapa harus Negara Singapura? Yang pertama karena cukup mudah dibayangkan, yang kedua, teman – teman kebanyakan pasti pernah berkeliling Singapura, dan yang ketiga agar Danau Tobanya terlihat lebih spektakuler saja. Kalau di bandingkan dengan Amerika Serikat misalkan, hanya 0,03% nya saja teman, tidak menarik untuk diceritakan.

Oke, sekarang kita cerita saja seperti apa tempatnya… (2)

Tiba di Pulau Samosir, kita langsung menuju ke Makam Raja Sidabutar. Bukan untuk ziarah yang pasti, karena tempat ini yang paling dekat dengan pelabuhan dan sedang ada show si gale gale. Si gale gale ini boneka kayu yang bisa manortor (menari tarian batak). Dahulu kala ceritanya dia bisa menari sendiri, lewat kekuatan mistis. Kalau sekarang sudah dipandu oleh operator, tapi tetap menarik dilihat.

Si Gale Gale

Si Gale Gale

Manortor

Manortor

Selanjutnya kami berjalan memutari Pulau Samosir, persis di pinggiran danau toba. Pemandangan yang terhampar sangat indah, menawan. Danau dikelilingi perbukitan, dan sawah dengan padi yang hampir menguning. Dibayangkan saja sudah pasti indah ya. Louis Armstrong kalau pernah kesini pasti lirik lagunya dia ubah..

I see rice of green, pretty lake too
I see them there for me and you
And I think to myself what a wonderful world.

Samosir

Samosir

 

Samosir

Samosir

Dari kejauhan tampak gunung Pusuk Bukit. Kami sengaja naik keatas bukit menuju kearah pemandian air panas. Pemandangan Danau Toba dari atas bukit ini juga sangat indah, apalagi ditambah semilir angin yang berhembus dingin dan bau belerang yang lumayan menyengat. Ngomong ngomong, bau belerang itu seperti bau telur busuk.

Danau Toba

Danau Toba

Country Road

Country Road

Oke, sekarang kita cerita saja seperti apa tempatnya… (3)

Turun dari bukit, kami mulai memasuki ke jalan menuju Tele. Jalanan ini sepertinya dulunya dibuat dengan membelah bukit, jadi di sisi kiri dan kanan adalah bukit, dengan hamparan rumput hijau dan pohon pinus. Saya yakin, anda akan langsung membayangkan seperti tengah berada di New Zealand atau Kanada, ketika melintas di sepanjang jalan ini. Bahkan bagi anda yang belum pernah ke New Zealand atau Kanada sekalipun, anda tetap membayangkan seperti itu. Seperti saya.

Kombinasi bukit hijau, ilalang, dan pohon pinus menurut saya adalah satu paket yang akan bisa membuat mata kita serta merta segar dan tersegarkan. Apalagi jika ditambah dengan pemandangan Danau Toba dari kejauhan. Itu yang kurang lebih akan kita lihat sepanjang perjalanan melintasi Tele

Tele sendiri adalah daerah perbukitan. Jalanannya berkelok – kelok sepanjang sisi bukit. Di satu sisi adalah bukit, dan sisi lainnya jurang dengan Danau Toba sebagai background. Pengendara mobil perlu extra hati – hati karena jalanan yang lumayan menantang, dan terutama sebisa mungkin menahan godaan untuk tidak melihat pemandangan yang menakjubkan, tetap fokus melihat ke jalan, atau pilihannya adalah masuk jurang.

Tele View

Tele View

Danau Toba from Tele

Danau Toba from Tele

Karena tidak tahan dengan godaan, maka saya menjadi sangat sering berhenti, memarkir kendaraan dan mengambil gambar, karena hampir di setiap tikungan dan tanjakan, saya terkesima (terkesima ini sepertinya bahasa serapan ya, dari kota yang di bom atom oleh Sekutu). Setiap tikungan saya berpikir mungkin setelah ini pemandangannya sudah tidak menarik lagi, dan ternyata saya selalu salah. Semakin menanjak ternyata pemandangan semakin bagus. Titik pandang yang berbeda memberi keindahan yang berbeda juga. Sampai akhirnya di puncak tele, begitu masyarakat setempat memberi namanya. Pemda membangun 1 menara persis di Puncak bukit, tempat dimana kita bisa melihat landscape danau toba dan bukit – bukit di sekitarnya. Inisiatif yang patut di apresiasi menurut saya, mendukung sosialisasi Tele sebagai bagian dari paket wisata Danau Toba.

Photo by Sayid Budhi & Janto Marzuki

Photo by Sayid Budhi & Janto Marzuki

View from Tele Tower

View from Tele Tower

Dari puncak Tele, kami meneruskan perjalanan Sidikalang, Kabanjahe, dan tiba di Medan hampir tengah malam. Lelah, tapi menyenangkan.

Rasa – rasanya, next trip ke Danau Toba akan lebih menarik jika menginap di Samosir, naik sepeda motor sepanjang bukit Tele sambil berburu foto – foto bagus. National Geographic, Majalah Garuda, bersiaplah. Tele hasil karya saya akan menjadi cover majalah anda selanjutnya…

See u next time

See u next time

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on April 14, 2015, in Lihat - Lihat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: