About Footballer Career

The Next Pele

The Next Pele

Saya mulai mengikuti berita sepakbola sejak berusia sekitar 6 tahun, di era Brehme mencetak gol pinalti di final piala dunia Italia, Denmark menjadi kejutan di Piala Eropa 1992, Trio Swedia di Piala Dunia USA 1994, dan dream team AC Milan. Jadi sekarang tingkatnya sudah adiktif akut. Sepanjang itu pula, saya mengikuti banyak cerita perjalanan karir pemain sepakbola. Ada yang lancar – lancar saja, banyak yang naik turun, tidak sedikit juga yang naik tinggi lalu kemudian turun dan tidak pernah naik kembali. Bahkan ada yang selesai begitu saja, hilang sebelum sempat naik.

Jika di petakan dan dibuatkan 1 matriks, kira – kira yang menentukan ‘derajat’ seorang pemain adalah kemampuan/bakat, dan attitude/mental. Itu dari sisi individu. Nah, jika berhubungan dengan karir, maka faktor pemilihan tim, kondisi tim saat itu, hubungan dengan pelatih, dan taktik yang harus di jalankan akan menjadi penentu jalur karir masing – masing.

Ada yang punya skill yang mumpuni, dengan attitude yang baik, lalu direkrut oleh tim besar. Mental si pemain juga siap bermain di tim besar. Klub menciptakan suasana yang mendukung si pemain selalu bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Karir si pemain terus menanjak, dan berakhir sebagai seorang legenda. Sebut saja Alesandro Del Piero, Raul Gonzales, atau John Terry. John Terry? Attitudenya kan begitu? Ya, karena ini berbicara mengenai attitude di sepakbola. Urusan pribadi tidak dibahas disini. Malahan, lebih hebat lagi karena dengan attitude seperti itu tetap tidak mempengaruhi performanya di lapangan. Jarang seorang bek mengorbankan kepalanya untuk menghadang tendangan lawan. John Terry salah satu nya. Dan Phil Jones, baru – baru ini🙂

Ada juga yang punya kemampuan, bakat yang berlebih, tetapi attitude dan mentalnya tidak siap. Akhirnya karirnya naik sesaat, dan kemudian jatuh tidak bangkit lagi. Mari kita tunjuk Adriano untuk pemain tipe seperti ini. Cassano, jika insaf lebih cepat mungkin karirnya tidak seburuk sekarang. Waiting list selanjutnya mungkin adalah Mario Balotelli. Oya, Lord Berdtner. Durhaka kita tidak menyebut nama Lord di kategori ini.

Ada lagi contoh pemain dengan skill tidak terlalu istimewa, tetapi punya attitude dan mental yang baik, juga cocok dengan pelatih, team dan taktik bermain. Karirnya pun dilalui dengan mulus. Meski tidak terlalu menonjol, setidaknya bagi tim nya dia adalah legenda. Ole Gunnar Solksjaer cocok untuk mewakili pemain di kategori ini. Juga Phil Neville, mengingat loyalitasnya duduk di bench Man U, dan setelah pensiun dipanggil lagi sebagai coach.  Di Munchen pernah ada yang bernama Mehmet Scholz. Steven Gerrad juga, mungkin? Hmm….

Ada yang masih ingat Luke Chadwick? Saya golongkan pemain ini ke tipe ‘hilang begitu saja’. Sempat membuat heboh karena masih muda, bermain di tim besar, dan di labeli ‘the next…’ tetapi ternyata… Kita juga wajib memasukkan nama Freddy Adu di tipe ini. Kabarnya Adu sudah mendapat klub baru, setelah karir terakhir yang dia geluti adalah menjadi host di salah satu night club di Amerika sana. Klub baru Adu disini maksudnya adalah klub sepakbola ya, bukan night club yang lain.

Nah, banyak juga pemain yang karirnya MENJADI tidak terlalu benderang, karena faktor tim, pelatih dan taktik bermain teamnya. Kenapa menjadi tidak benderang? Karena sebenarnya tidak ada masalah dengan kemampuan,atau attitude, dan bahkan ada yang tetap menjadi andalan bagi tim nasionalnya.Tetapi karena ada faktor eksternal tersebut, kesempatan bermain berkurang, dan akhirnya membuat sinar si pemain meredup.

Hampir selalu terjadi di tim besar, pemain yang ada di kondisi seperti ini kebanyakan pasti akan terkena penyakit galau. Dilema adalah bahasa yang lebih formal. Pilihannya adalah tetap bertahan sambil berharap terjadi perubahan, dan tetap menikmati status sebagai pemain di klub besar, atau pindah ke tempat baru dengan jaminan minutes play yang lebih banyak.

Memilih untuk pindah pun, kemungkinan berlabuh di klub yang setara kecil, mengingat tawaran yang datang lebih banyak datang dari klub yang levelnya lebih rendah, di liga yang juga mungkin kompetisinya tidak semegah sebelumnya.

Wesley Sneijder sewaktu di Real Madrid pernah ada di posisi ini. Juga Diego Forlan di Man U. Keduanya adalah bintang di negara masing – masing, tapi tidak di klub. Oya, Alexis Sanchez juga ya…

Kevin De Bruyne dan Andre Schurlle saat keduanya di Chelsea.

5 pemain diatas adalah sedikit dari banyak contoh pemain yang akhirnya memilih pindah ke klub yang lebih kecil, karena gagal bersinar di klub lama, yang jauh lebih besar. Sekali lagi, seharusnya tidak ada masalah dengan kualitas karena mereka semua tetap menjadi andalan di negara masing – masing. Andre Schurlle contohnya, menjadi salah satu penentu Jerman menjadi juara dunia di Brasil 2014 lalu. Kevin De Bruyne juga tetap menjadi andalan di Belgia.

De Bruyne dan Schurlle pindah ke Wolfsburg, Forlan pindah ke Villareal, Sneijder pindah ke Inter. Mohon maaf pendukung inter, di tahun tersebut bisa lah kita katakan Madrid lebih besar dari Inter🙂 (sampai tulisan ini diketik juga masih, sih). Alexis Sanchez ke Arsenal

Entah karena bertemu pelatih yang tepat, nyaman dengan suasana baru, minutes play yang lebih banyak, atau karena bertemu rekan – rekan yang tepat, semua pemain contoh diatas kembali bersinar, menjadi pemain penentu, bahkan membantu timnya mendapat trofi.

De Bruyne menjadi salah satu pemain paling bersinar di Bundesliga musim ini, bersama Schurlle membawa Wolfsburg ke posisi runner up Bundesliga, 10 gol, 20 assist, dan berhasil memenangkan Piala Jerman pertama sepanjang sejarah klub. Forlan menjadi top skor di Villareal, ya di Villareal. Sneijder membawa Inter meraih treble. Juara Serie A, Coppa dan Liga Champions!

Sanchez menaikkan posisi Arsenal 1 peringkat, ke peringkat 3, plus mempertahankan piala FA.

Entah faktor mana yang paling berpengaruh, yang pasti pindah ke klub yang lebih kecil tidak membuat nama besar mereka ikut mengecil. Bahkan, mereka berhasil membuat nama klub yang mereka bela menjadi lebih besar. Tidak ada yang begitu peduli dengan Villareal sebelum Forlan datang. Memang sudah ada Martin Palermo sebelumnya, tapi Forlan tetap lebih fenomenal karena di musim pertamanya bisa langsung menjadi top scorer di La Liga.

Pada akhirnya, nama mereka menjadi lebih besar lagi, dibanding saat bermain di klub besar terdahulu…

Naik turun karir sebagai pemain sepakbola adalah salah satu contoh dari banyak perjalanan karir di dunia profesional.

Memilih menjadi cadangan di perusahaan besar, atau menjadi pemain inti di perusahaan yang lebih kecil.

Berusaha menjadi Messi atau Ronaldo? Atau cukup menjadi Phillip Neville/Solksjaer, atau memilih menjadi De Bruyne?

de bruyne

About drick

common, ordinary, nothing special...

Posted on June 1, 2015, in Opinion and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: