Tentang membuang sampah sembarangan,berkendara tanpa helm, dan Pilkada DKI

Akhir desember kemarin, saya dan Melya pulang ke kota asal saya, Medan (setelah 2 tahun tidak pulang). Rasanya cukup senang dan antusias bisa kembali ke kota tempat saya dibesarkan ini. Bertemu ibu dan kakak juga keluarga dekat yang lain. Berziarah ke makam Bapak, melihat Danau Toba dari Simalem, juga sempat ke Tangkahan. Satu hal yang wajib tentunya adalah berkeliling kota berburu makanan khas kota 1001 ketua ini. Banyak makanan enak, mulai dari durian, lontong sayur, kwetiaw goreng “Acek Botak”, mie aceh, bika ambon, dan seterusnya. Mengenai mie aceh dan bika ambon, ini sedikit aneh juga. Jika ada pertanyaan, “Sebutkan 2 makanan favorit di Medan” lalu ada yang menjawab “Mie aceh titi bobrok dan bika ambon”. Ke Medan, makan mie aceh, dan buah tangannya bika ambon… “Di Jogja makanan favoritnya apa ya bro?” “Udah coba rawon bro? atau sate padang?” Begitulah kira – kira…

Beberapa hari di sana, saya mencoba membandingkan dengan kali terakhir saya pulang, 2 tahun yang lalu. Rasa – rasanya tidak terlalu banyak perubahan yang terlihat, setidaknya di jalur yang sama yang saya lewati 2 tahun yang lalu. Bangunan – bangunan baru tidak terasa ada, jalanan juga masih khas muka minim perawatan, terkadang berjerawat, di tempat lain berlubang di sana sini. Konon seorang bernama Herakleitos pernah berkata, “Satu-satunya yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri”. Menurut yang bersangkutan, semua pasti berubah. Tetapi ungkapan itu tidak berlaku di Medan. Ada kok yang tidak pernah berubah. Sampah, dan pengendara kereta tanpa helm adalah 2 hal, selain korupsi, mungkin. Jadi, di Medan kalimatnya seharusnya “Yang tetap itu adalah perubahan, juga sampah dan pengendara sepeda motor tanpa helm”. Atau “Selain sampah dan pengendara sepeda motor tanpa helm di Medan, semua pasti berubah”

Saya tinggal di daerah pinggiran kota. Daerah yang tidak jauh dari Gapura “Selamat Jalan”, dan di sisi sebaliknya bertuliskan “Selamat Datang di Kota Medan”. Karena kondisi ini saya rasakan di daerah sekitar tempat saya tinggal, awalnya saya coba menghubung – hubungkan daerah pinggiran dengan kebiasaan ‘jorok’ dan ‘jalan raya minim aturan’. Stereotype orang pinggiran di banyak tempat adalah kelakuan sedikit minus, juga belum tersentuh pendidikan karakter. Tetapi, rasa – rasanya tidaklah logis menyimpulkan orang yang tinggal di daerah pinggiran lebih tidak tahu aturan dibanding dengan orang yang tinggal di pusat kota. Saya yakin, setelah saya pertimbangkan kembali, yang terjadi adalah, negara tidak hadir di pinggiran kota Medan, di lingkungan rumah saya. Dimana negara saat orang lalu lalang berkendara tanpa helm dan lampu lalu lintas mereka sepakati sebagai lampu taman? Warna – warni lampu mereka anggap hanya untuk memperindah jalan, bukan untuk mengatur mereka kapan saatnya berhenti dan jalan. Dimana juga negara saat angkot, mobil 2 pintu (pick up/mobil bak terbuka), mobil import build up, tidak sungkan – sungkan membuka jendela dan membuang sampah dari mobilnya? Orang – orang seperti ini, jika merokok pasti asapnya mereka hembus ke muka orang di depannya, dengan sengaja. Tidak susah menemukan tumpukan sampah di pinggir jalan, dan sepertinya susah menemukan orang yang terganggu dengan tumpukan sampah itu.

Saya tidak tahu, apakah UU lalu lintas kita mengatur perlindungan kepada pelaku kecelakaan di jalan raya, jika korbannya adalah pengendara sepeda motor tanpa helm. Belum ada orang yang selamat jika kepala orang tersebut diadu dengan aspal. Aspal pasti menang. Seharusnya mereka – mereka itu tahu, dan takut untuk tidak menutup kepalanya dengan Helm. Andi Lau saja, di salah satu filmya, meninggal saat balapan, padahal almarhum sudah pakai helm (di film itu Andi Lau menjadi almarhum). Ya, diluar itu, memang, Andi Lau cukup sering meninggal di filmnya. Kalau bintangnya Jackie Chan bisa jadi terluka pun tidak, padahal tidak pakai helm juga. Kembali ke Undang – Undang, kasihan juga jika ada orang yang tidak sengaja menyenggol pengendara sepeda motor yang tidak pakai helm, lalu kepalanya terbentur aspal. Mungkin seharusnya si korban tidak cidera, atau hanya cidera ringan, karena kepalanya terbentur malah jadi kecelakaan serius. Saya pikir Negara perlu hadir untuk mengatur ini. Contoh yang mudah, membuat pernyataan di STNK, menyatakan jika yang bersangkutan tidak memakai helm, maka segala kejadian di jalan raya yang berakibat pada kepalanya akan dia terima dengan ikhlas. Ditandatangani di atas materai 6000.

Pun dengan oknum ringan tangan yang suka membuang sampah dimana saja. Mereka bisa membeli mobil seharga 1 milyar, tetapi tidak bisa membeli tempat sampah di mobil. Padahal Ace Hardware sudah ada di Medan. Ini sebenarnya bukan penyakit kaum pinggiran kota medan saja sih. Pak Basuki, Gubernur Jakarta pernah mengeluh, pengendara mobil di Jalan Sudirman pun masih ada yang membuang sampah ke jalan. Tapi, bisa jadi itu kelakuan orang Bekasi yang bekerja di Sudirman ya? Entahlah. Apakah ada ancaman pidana di KUHP untuk orang – orang seperti ini? Negara sebaiknya juga mulai memikirkan. Dipidana karena membuang sampah sembarangan. Jika hukum ini ditegakkan, maka separuh warga Medan tinggal di penjara. Termasuk penegak hukumnya jangan – jangan. Mereka – mereka ini, bisa jadi cukup berpendidikan, punya uang yang lebih dari cukup, punya posisi penting di perusahaan, atau malah sebagai pemilik. Tapi, urusan sampah membuat kelakuan mereka menjadi primitif.

Ada kalimat yang terpampang dimana – mana di masa Orde Baru. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Bayangkan, menjadi orang yang berperilaku bersih itu menunjukan besaran Iman! Jadi, dengan logika yang sama, orang – orang yang hidupnya jorok dan tidak tau cara membuang sampah yang benar, bisa dikatakan tidak punya iman. Kafir. Orang – orang ini layak dikumpulkan dan diserahkan ke FPI, untuk dikafir – kafirkan. Sudah masuk penjara, di cap kafir pula oleh ormas tersebut. Tersiksa lahir batin

Saya menulis ini hanya mencurahkan unek – unek, bukan mau memberikan solusi. Lagipula, solusi apa yang mau diberikan, jika perwakilan negara yang terpilih seperti ini :

1-walikota-dan-wakil-walikota-medan-ditangkap-kpk

Walikota dan Wakil Walikota Medan periode 2005 – 2010 (periode ke-2) ditangkap KPK

2-walikota-medan-rahudman-ditangkap

Walikota pengganti, juga masuk bui karena korupsi

4-walikota-medan-tertidur

Kelakuan Wakil Walikota yang menggantikan Walikota yang masuk bui…

3-walikota-medan-dipakaikan-sepatu

Tertidur saja belum cukup, ini masih ada lagi…

Jika DKI Jakarta memilih apakah Pak Basuki atau Pak Anies yang akan jadi Gubernur, maka Medan, jika diberi pilihan yang sama, tidak memilih. Medan ambil keduanya. Medan butuh 2 Gubernur, sekaligus. Pak Basuki untuk masalah system, infrastruktur, dan birokrasi. Memastikan negara hadir. Pak Anies untuk menggerakkan masyarakat, agar masyarakat lebih cepat tercerdaskan. Masalah kalian, warga Jakarta, belum ada apa – apanya.

Jakarta, kalian beruntung diberi pilihan calon Pak Basuki dan Pak Anies… Diberi bonus pula hiburan dari Mas Agus…

Advertisements

About Frederick

common, ordinary, nothing special...

Posted on January 15, 2017, in Opinion and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

halaman kecil untuk kehidupan yang lebih baik

apapun yang terpikirkan oleh manusia

Anthology 12

You know my name, look up the number... (The Beatles)

Catatan Kecil

Sebuah catatan mengenai pengalaman, pemikiran & perjalanan

Noisy Pilgrims

Incredible Photography from India

Good Humored

by Paprika Furstenburg

%d bloggers like this: